Kamis, 05 Maret 2015

Redaksi toleransi

Sikap Saling Menghormati
QS. AL-Mumtahanah : 8-9.
  “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang- orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS.AL-Mumtahanah 8-9).
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Islam menjunjung tinggi toleransi serta menghormati antar umat beragama yang dia ajarkan syari’at ini, hendaklah kaum muslim berlaku baik dan adil pada umat lainnya selama tidak ada sangkut pautnya dengan hal agama, akan tetapi tidak dibenarkan berlaku loyal kepada agama lain. Dan tidak pula ikut serta meramaikan ritual- ritual agama mereka yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Pada saat itu didatangi oleh kaum kafir Quraisy yang menawaran kepada Rasul Saw, bahwa mereka ingin menyembah Allah ta’ala dengan syarat Rasul Saw dan pengikutnya juga mau ikut menyembah tuhan mereka secara bergantian dan dalam tempo yang ditentukan. Maka Allah ta’ala menurunkan ayat ini.
QS. AL-Kafiruun:1- 6.
Katakanlah (Muhammad),”Wahai orang-orang kafir!, Aku tidak akan menyembah apa yang aku sembah, dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Untukmu agamamuu, dan untukkulah, agamaku’.(QS. AL-Kafiruun:1-6)

Banyak cara yang bisa kita lakukan dalam bertoleransi  seperti , tidak mengusik agama lain yang sedang merayakan agamanya, menghargai dan menghormatinya, dan tolong menolong, tetap menjalin hubungan ,berlaku baik terhadapnya. Alkisah, di Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu menghina Rasul Saw. dihadapan orang-orang. Namun Rasul Saw, tetap mendatanginya dengan membawakan makanan. Tanpa berucap sepatah kata pun, Rasul Saw tetap menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu, sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasul Saw. Orang itu selalu mencaci maki beliau melakukan hal ini sampai setiap hari dan sampai beliau pun wafat. Setelah beliau wafat di keesokan harinya Abu Bakar menyuapi orang buta itu sampai orang itu mengatakan bahwa cara suapan ini tidak seperti biasanya yang seperti di lakukan oleh Rasul Saw, Abu Bakar pun menetaskan air mata dan mengatakan bahwa orang yang biasa menyuapimu telah tiada, dan orang buta itu mengatakan siapakah dia ? Abu Bakar berkata ialah Muhammad Saw yang selalu kau hina dan caci maki dan orang buta itupun menangis dan mengatakan bahwa dirinya masuk islam. La illaha illallah !!!

Rabu, 18 Februari 2015

amar ma'ruf nahi mungkar

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Q.S Luqman [17]
Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Luqman 17)
Bissmillah.
Q.S Fushshilat [33]                                                                                                                                    Dan siapa yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru (manusia) kepada Allah dan beramal shalih dan berkata, “Bahwasanya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).(Q.S. Fushshshilat: 33)
Sebagian musafir menafsirkan bahwa barangsiapa menyeru manusia ke jalan Allah dengan cara apa saja, maka berhak mendapat kehormatan berupa berita gembira dan pujian seperti yang di sebutkan di dalam ayat di atas, misalnya para Nabi a.s berdakwah dengan menggunakan dalil dan hujjahnya, para mujahid berdakwah dengan pedangnya, dan para muadzin berdakwah dengan adzannya. Intinya siapa pun yang menyeru kepada Allah, ia berhak mendapatkan kehormatan itu, baik mengajak kepada amalan-amalan zhahir atau amalan-amalan batin, sebagaimana para ahli tasawuf mengajak kepada ma’rifatullah ( mengenal Allah ). ( Tafsir Khazin )
Dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a., ia berkata , “ Aku mendengar Rasulullah saw. Bersabda, ‘Baramgsiapa melihat kemunkaran dilakukan di hadapannya, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lidahnya. Jika tidak mampu, maka bencilah dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman. “ (Muslim,Tirmidzi,Ibnu Majah,Nasa”i – At-Targhib).
Disebutkan dalam hadits yang lain bahwa jika seorang dapat mencegah kemungkaran dengan lidahnya, maka cegahlah. Jika tidak, maka yakinlah didalam hati bahwa perbuatan itu merupakan suatu kemungkaran. Dengan demikian, ia terbebas dari tanggung jawab tersebut. Hadits lain mengatakan, “Barangsiapa membenci kemaksiatan, walaupun hanya didalam hati, ia pasti seorang beriman. Tidak ada lagi derajat iman yang paling rendah dari derajat itu. Masih banyak hadits Nabi Saw. Yang menyebutkan tentang hal ini. Sekarang lihatlah, apa yang terjadi di depan kita, berapa banyak diantara kita yang telah melaksanakan hadits tersebut? Berapa banyak kemungkaran yang telah kita saksikan, lalu mengubahnya dengan tangan kita,atau lisan kita ? Dan berapa banyak di antara kita yang hatinya benar-benar membenci kemungkaran? Padahal itulah selemah-lemah iman. Paling tidak, hendaklah kita meyakini bahwa kemungkaran adalah kemungkaran, dan ada kesedihan di dalam hati ketika melihatnya. Akhirnya, marilah kita berpikir, apa yang sedang terjadi pada zaman ini dan apa yang seharusnya kita lakukan terhadapnya.


Sabtu, 07 Februari 2015

Untuk Kita Renungkan
Renungan ini dihadirkan atas dorongan iman dan tanggung jawab kepada Allah SWT.Sebab agama ini adalah nasihat. Rasul Saw bersabda :
“ Agama ini adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa, ya Rasulullah? “ Beliau Saw. menjawab, “Untuk Allah,Kitab-Nya,Rasul-nya,para pemimpin kaum Muslim, dan mereka semuanya (kaum Muslim).” (HR. Muslim dari Tamin ad-dari)
Baru saja kita melewati tahun 2014 menuju tahun 2015 kini usia kita semakin berkurang menurut pandangan islam, harus kita ketahui bahwa usia adalah nikmat terindah yang diberikan oleh Allah Swt. Kita diberikan nikmat yang begitu luar biasa, seperti penglihatan, pendengaran, dan hati.
Q.S An- Nahl [16]:78                      
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran,penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.(Q.S An-Nahl [16]:78)
Di zaman modern perlu diketahui bahwa semuanya serba praktis dan canggih, seperti halnya mesin google semuanya dapat di akses didalamnya tanpa harus mengeluarkan keringat dan pikiran begitu dalam,akan tetapi itu hanyalah sementara dan tidak akan membawa hasil untuk akhirat. Yang harus kita pahami adalah agama ini ,hidup ini hanyalah sementara dan setelah dunia kita menuju alam akhirat yaitu tempat kekal ,dimana seluruh umat manusia dikumpulkan di YaumulMahsyar yaitu tempat persaksian antara hamba dan Tuhan-Nya. Dan tidak ada pertolongan selain pertolongannya.
Q.S AL-Haaqqah [70]:18
Pada hari itu kamu dihadapkan ( kepada Tuhanmu ), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi
( bagi Allah ). (Q.S AL-Haaqqah [70]: 18)
Q.S AL- Isra [17]:97
"Dan barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, dialah yang mendapat petunjuk dan barang siapa Dia sesatkan, maka engkau tidak akan mendapatkan penolong-penolong bagi mereka selain dari Dia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari Kiamat dengan wajah tersungkur, dalam keadaan buta, bisu, dan tuli. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahanam. Setiap kali nyalaapi Jahanam itu akan padam, Kami tambah lagi nyalanya bagi mereka." (Q.S AL-Isra [17]:97)


Jadi, sebelum kita menuju ke akhirat marilah bersama sama memperbaiki diri dan banyak bertaubat kepada Allah Swt. Sebab dunia ini hanya sementara dan dunia hanyalah tipuan, dan janganlah kita melupakan kampung asli kita, yaitu dimana ?, adalah di akhirat, disana kita hidup abadi selamanya.  Dan perlu diingat bahwa kita akan mengalami namanya kematian dan itu pasti akan terjadi sebab kematian tidak mengenal usia, kaya, miskin dan sekalipun jabatan. Wallah  a’lam bi ashawab. ()