Rabu, 18 Februari 2015

amar ma'ruf nahi mungkar

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Q.S Luqman [17]
Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Luqman 17)
Bissmillah.
Q.S Fushshilat [33]                                                                                                                                    Dan siapa yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru (manusia) kepada Allah dan beramal shalih dan berkata, “Bahwasanya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).(Q.S. Fushshshilat: 33)
Sebagian musafir menafsirkan bahwa barangsiapa menyeru manusia ke jalan Allah dengan cara apa saja, maka berhak mendapat kehormatan berupa berita gembira dan pujian seperti yang di sebutkan di dalam ayat di atas, misalnya para Nabi a.s berdakwah dengan menggunakan dalil dan hujjahnya, para mujahid berdakwah dengan pedangnya, dan para muadzin berdakwah dengan adzannya. Intinya siapa pun yang menyeru kepada Allah, ia berhak mendapatkan kehormatan itu, baik mengajak kepada amalan-amalan zhahir atau amalan-amalan batin, sebagaimana para ahli tasawuf mengajak kepada ma’rifatullah ( mengenal Allah ). ( Tafsir Khazin )
Dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a., ia berkata , “ Aku mendengar Rasulullah saw. Bersabda, ‘Baramgsiapa melihat kemunkaran dilakukan di hadapannya, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lidahnya. Jika tidak mampu, maka bencilah dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman. “ (Muslim,Tirmidzi,Ibnu Majah,Nasa”i – At-Targhib).
Disebutkan dalam hadits yang lain bahwa jika seorang dapat mencegah kemungkaran dengan lidahnya, maka cegahlah. Jika tidak, maka yakinlah didalam hati bahwa perbuatan itu merupakan suatu kemungkaran. Dengan demikian, ia terbebas dari tanggung jawab tersebut. Hadits lain mengatakan, “Barangsiapa membenci kemaksiatan, walaupun hanya didalam hati, ia pasti seorang beriman. Tidak ada lagi derajat iman yang paling rendah dari derajat itu. Masih banyak hadits Nabi Saw. Yang menyebutkan tentang hal ini. Sekarang lihatlah, apa yang terjadi di depan kita, berapa banyak diantara kita yang telah melaksanakan hadits tersebut? Berapa banyak kemungkaran yang telah kita saksikan, lalu mengubahnya dengan tangan kita,atau lisan kita ? Dan berapa banyak di antara kita yang hatinya benar-benar membenci kemungkaran? Padahal itulah selemah-lemah iman. Paling tidak, hendaklah kita meyakini bahwa kemungkaran adalah kemungkaran, dan ada kesedihan di dalam hati ketika melihatnya. Akhirnya, marilah kita berpikir, apa yang sedang terjadi pada zaman ini dan apa yang seharusnya kita lakukan terhadapnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar