Amar Ma’ruf Nahi
Munkar
Q.S Luqman
[17]
Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Luqman 17)
Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Luqman 17)
Bissmillah.
Q.S Fushshilat
[33]
Dan
siapa yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru (manusia)
kepada Allah dan beramal shalih dan berkata, “Bahwasanya aku termasuk orang-orang
yang berserah diri (muslim).(Q.S. Fushshshilat: 33)
Sebagian musafir
menafsirkan bahwa barangsiapa menyeru manusia ke jalan Allah dengan cara apa
saja, maka berhak mendapat kehormatan berupa berita gembira dan pujian seperti
yang di sebutkan di dalam ayat di atas, misalnya para Nabi a.s berdakwah dengan
menggunakan dalil dan hujjahnya, para mujahid berdakwah dengan pedangnya, dan
para muadzin berdakwah dengan adzannya. Intinya siapa pun yang menyeru kepada
Allah, ia berhak mendapatkan kehormatan itu, baik mengajak kepada amalan-amalan
zhahir atau amalan-amalan batin, sebagaimana para ahli tasawuf mengajak kepada
ma’rifatullah ( mengenal Allah ). ( Tafsir Khazin )
Dari Abu Sa’id
Al-Khudri r.a., ia berkata , “ Aku mendengar Rasulullah saw. Bersabda, ‘Baramgsiapa
melihat kemunkaran dilakukan di hadapannya, maka ubahlah dengan tangannya. Jika
tidak mampu, maka dengan lidahnya. Jika tidak mampu, maka bencilah dengan
hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman. “ (Muslim,Tirmidzi,Ibnu
Majah,Nasa”i – At-Targhib).
Disebutkan dalam
hadits yang lain bahwa jika seorang dapat mencegah kemungkaran dengan lidahnya,
maka cegahlah. Jika tidak, maka yakinlah didalam hati bahwa perbuatan itu
merupakan suatu kemungkaran. Dengan demikian, ia terbebas dari tanggung jawab
tersebut. Hadits lain mengatakan, “Barangsiapa membenci kemaksiatan, walaupun hanya
didalam hati, ia pasti seorang beriman. Tidak ada lagi derajat iman yang paling
rendah dari derajat itu. Masih banyak hadits Nabi Saw. Yang menyebutkan tentang
hal ini. Sekarang lihatlah, apa yang terjadi di depan kita, berapa banyak
diantara kita yang telah melaksanakan hadits tersebut? Berapa banyak
kemungkaran yang telah kita saksikan, lalu mengubahnya dengan tangan kita,atau
lisan kita ? Dan berapa banyak di antara kita yang hatinya benar-benar membenci
kemungkaran? Padahal itulah selemah-lemah iman. Paling tidak, hendaklah kita
meyakini bahwa kemungkaran adalah kemungkaran, dan ada kesedihan di dalam hati
ketika melihatnya. Akhirnya, marilah kita berpikir, apa yang sedang terjadi
pada zaman ini dan apa yang seharusnya kita lakukan terhadapnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar